Lima puluh tahun lalu, jika anda punya kekasih di seberang lautan, ia terasa sangat jauh.  Untuk menanyakan kabarnya, anda harus berkirim surat.  Lantas menunggu berminggu-minggu sebelum mendapatkan balasan.
Kini tidak lagi.  Telepon genggam dengan teknologi 3,5G memungkinkan seorang istri di Jakarta ngobrol sambil menatap wajah suaminya di Los Angeles.
Komunikasi tatap muka ini bisa juga dilakukan lewat internet.  Teknologi makin lama makin mudah dan murah.
Akibatnya, orang bisa merasa tetap dekat, walaupun tinggal berjauhan.

Cara Tuhan berkomunikasi dengan umatNya juga mengalami perkembangan.  Dulu Allah berbicara secara tidak langsung kepada umatNya, tetapi lewat perantaraan nabi-nabi.  Manusia tidak mungkin dapat mengobrol dengan Tuhan.  Namun, semuanya berubah drastis sejak Yesus lahir.  Sebuah era baru dimulai.  Dengan menjadi manusia, terbukalah komunikasi langsung antara Tuhan dan umat.  Orang yang hidup di Israel waktu itu bisa bertatap muka dan berdiskusi dengan Yesus, karena Yesus adalah "gambar wujud Allah".  Ketika orang melihat Yesus, mereka sudah melihat Allah!  Yang jauh kini menjadi dekat.  Yang tak terjangkau kini dapat disentuh.

Lantas bagaimana dengan kita yang hidup pada zaman ini?  Yesus telah naik ke surga.  Bukankah ini berarti Dia menjadi jauh?  Tidak!  Malah semakin dekat!  Roh-Nya hadir menemani kita setiap saat.  Pemikiran-Nya tertulis di Alkitab.  Pintu komunikasi semakin terbuka lebar.  Yesus semakin mudah dihubungi.  Tidak perlu pergi ke Israel untuk menjumpai-Nya.
Sudahkah kita memanfaatkan jalur komunikasi yang luar biasa ini?

Orang yang jarang berkomunikasi dengan Tuhan
Ibarat punya handphone canggih, tetapi jarang digunakan.