Ketika presiden datang berkunjung ke daerah, biasanya daerah pun berbenah habis-habisan dengan mengucurkan dana anggaran yang besar.  Sekian tahun yang lalu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, suatu kali presiden pada waktu itu akan datang berkunjung.  Betapa sibuknya pemerintah daerah memperindah kota, terutama jalan yang akan dilalui presiden.  Pembatas jalan dan zebra cross dicat ulang, bahkan rumah-rumah yang akan dilewati mendapat instruksi langsung untuk mengecat ulang rumah mereka.  Persiapan yang tidak sedikit, memerlukan waktu yang tidak sedikit pula, padahal jalan itu hanya akan dilalui beberapa detik saja oleh iring-iringan mobil presiden.  Itu kalau presiden.  Mari kita ambil contoh yang lebih kecil saja.  Andaikata saat ini gubernur atau bupati datang ke rumah kita, apa yang akan kita persiapkan? Apakah kita juga akan berbenah habis-habisan dan akan mempersembahkan hidangan yang terbaik sesanggup kita?  Tentu saja bukan?  Kita akan melakukan itu untuk menunjukkan rasa hormat kita kepada orang yang dihormati.  Mertua datang saja bisa membuat kita sibuk bukan kepalang, itu karena kita menghormati mereka.

Sebagai seorang diaken, saya juga bertugas untuk menghitung persembahan.  Ada begitu banyak uang yang dimasukkan dalam keadaan jelek.  Kusut seperti habis diremuk-remuk sampai kecil sekali.  Padahal lubang untuk memasukkan tidaklah kecil-kecil amat.  Saya merasa sedih melihat ini.  Bukan soal nominal tentu, karena tidak semua orang sanggup memberi banyak.  Itu saya tahu.  Tapi tidakkah indah jika kita memberi dengan sedikit rasa hormat?  Kita memberi persembahan, baik perpuluhan, diakonia, kasih dan sebagainya untuk menghormati Tuhan, bukan untuk uang karcis masuk gereja.  Jika kepada presiden, gubernur, atau mertua kita rela bersusah payah untuk memberi yang terbaik, mengapa kepada Tuhan yang berada di atas segalanya kita malah bersikap seperti itu?

Banyak orang selalu menuntut berkat yang terbaik dari Tuhan, tapi hanya memberi sisa-sisa saja kepada Tuhan.  Kita menuntut segala sesuatu yang paling besar, namun memberi sekecil mungkin.  Itupun tidak disertai rasa hormat.  Ada banyak orang mengeluh ketika memberi persepuluhan karena merasa bahwa mereka masih membutuhkan uang itu.  Selalu merasa belum cukup dan merasa perlu untuk terus menimbun uang sebanyak-banyaknya.  Mereka lupa bahwa segala sesuatu itu berasal dari Tuhan, termasuk rejeki atau berkat yang kita terima setiap harinya.  Tuhan selalu lebih dari sanggup mencukupkan bahkan memberi dengan berkelimpahan kepada kita.  Tapi siapakah kita memberi yang terbaik pula kepadaNya.

Alkitab banyak berbicara mengenai memberi segala sesuatu yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Tuhan.  Ayat-ayat mengenai hal ini sangat banyak terdapat di dalam alkitab, terutama di dalam Perjanjian Lama.
Baca : Lukas 15:22-24 dan Maleakhi 1:6,8,14.

Ini tidak main-main.  Tuhan telh memberi segala sesuatu yang terbaik bagi kita.  Bukan saja berkat-berkat materi, tetapi juga perlindungan, bahkan keselamatan.  AnakNya sendiri Dia berikanbagi kita agar kita selamat.  Bukankah itu sebuah pemberian yang sangat besar?  Jika kita menyadari hal itu, maka kita seharusnya tidak berlaku asal-asalan atau terpaksa dalam memberi kepada Tuhan.  Seharusnya kita tidak memanfaatkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhan hanyalah sosok yang hanya dimintai tapi tidak perlu dihargai.  Don't take it for granted, we really have to honor Him back, the best we can.
Baca : Amsal 3:9-10 dan Markus 12:41-44.

Hari ini mari kita renungkan, apakah kita sudah memberi yang terbaik bagi Tuhan?  Atau kita masih berhitung untung rugi, mementingkan diri kita sendiri secara berlebihan dan tanpa rasa bersalah mengemplang apa yang menjadi hak Tuhan.  Tuhan telah begitu luar biasa mengasihi kita, Dia selalu memberi yang terbaik kepada kita, rancangan yang Dia sediakan adalah yang terbaik untuk menatap hari depan yang penuh harapan.  Oleh karena itulah kita seharusnya sadar posisi kita, dan memuliakanNya dengan segala yang terbaik dari diri kita.  Bukan hanya persembahan dalam bentuk uang, tapi justru yang terpenting adalah diri kita sendiri (Roma 12:1).
Sudahkah kita mempersembahkan yang terbaik dari diri kita kepada Tuhan, atau kita masih mentolerir dosa-dosa yang kita anggap kecil sambil terus mengaku sebagai umat yang mengasihiNya?  Mari kita berikan segala yang terbaik bagi Tuhan, karena jika orang saja kita hormati, Tuhan jauh lebih dari layak untuk itu.

GOD deserves the best from us.