"Pa, Kezia ketabrak!" telepon istri saya bagai petir di siang bolong.  Saya sedang mengetik di rumah.
Tidak berpikir dua kali, saya segera lari ke bawah.  Lift terasa lama sekali.  Saya pakai tangga.  Apartemen kami di lantai lima.  Saya langsung menuju jalan raya.
Kezia, anak pertama kami, sedang digendong oleh istri saya di pinggir jalan.  Puji Tuhan Kezia tidak sampai kenapa-kenapa.  Hanya memar kecil di kaki.  Sempat menginap di rumah sakit semalam untuk observasi, trus boleh pulang.
Kami belum lama tinggal di Singapura.  Tempat tinggal kami jauh dari pusat kota.  Lalu lintas di sini relatif teratur dan tenang.  Kalau siang hari agak lengang.  Karena merasa aman, kami jadi suka ceroboh kalau menyeberang jalan.
Begitu turun dari bus anak-anak biasa menyeberang sendiri.  Sampai terjadilah kecelakaan itu.

Di tengah kenyamanan kerap kita menjadi lalai.  Tidak heran kecelakaan justru banyak terjadi di jalan tol.
Begitu juga yang terjadi pada bangsa Israel pada masa pemerintahan Raja Salomo.  Pada masa itu, Israel tengah berada di puncak kejayaan, situasi aman dan damai.  Mereka menjadi lalai, membiarkan pengaruh buruk dari luar memasuki kehidupan mereka.
Salomo sendiri jatuh ke dalam penyembahan berhala (1 Raja-raja 11:1-13).  Dari sanalah awal perpecahan bangsa itu, sampai kemudian mereka dibuang ke Babel.

Pesan buat kita, dalam situasi aman dan damai, ketika hidup kita mulus dan nyaman, tetaplah berpaut kepada Tuhan, jangan lalai.

Hati-hati dengan kenyamanan.
Salah-salah, kita justru bisa digilasnya.