ANAK HILANG

"Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku", begitu protes si sulung kepada ayahnya.

"Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia."

Cerita si anak yang hilang adalah salah satu kisah sangat terkenal dari Alkitab.

Biasanya yang menjadi fokus adalah sibungsu.  Ia menuntut harta warisan bagiannya, pergi dari rumahnya, menghamburkan harta miliknya, jatuh miskin, menyadari dan menyesali perbuatannya, lalu kembali ke rumah ayahnya.

Itu adalah gambaran yang dekat dengan kita.  Kita terjerumus ke dalam dosa, lalu bertobat, dan mendapat pengasihan Bapa Surgawi.

Namun, sebetulnya sosok si sulung pun tidak kurang jauh dari gambaran kita.  Bahkan, mungkin kita lebih kerap seperti itu.  Kita memang tidak sampai "terhilang", kita tetap ke gereja, aktif dalam pelayanan, pendeknya kita adalah orang baik-baik, tidak pernah terjerumus dalam "kemabukan duniawi".  Tetapi, kita hidup dalam ketidaktulusan.  Kita melakukan segala kebaikan itu dengan pamrih memperoleh "upah".

Itulah sebabnya ketika ada "pendosa" yang bertobat dan kemudian mendapat pengasihan Tuhan, kita protes tidak bisa terima.  Sebab kita merasa lebih layak, lebih baik.  Diam-diam kita telah menjadi hakim atas sesama kita.

Maka, entah kita sebagai si bungsu atau si sulung, kita ini tetap si anak hilang.  Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa?

Menjadi seperti si bungsu atau si sulung : sama buruknya.

 
Make a Free Website with Yola.